Minggu, 30 Oktober 2016

Tawa-Menawar, Ciri Khas Pasar Tradisional


-Rabu, 11 Mei 2016-

Bila mendengar pasar tradisional, salah satu ciri yang umum melekat ialah tawar-menawar. Tawar-menawar seakan sudah menjadi tradisi dalam pasar tradisional, tak terkecuali di Pasar Baru Karawang.

            Di Pasar Baru Karawang segala macam kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier, dapat ditemukan. Dari mulai bahan makanan, kebutuhan dapur, sampai kebutuhan untuk mempercantik diri (cicin, kalung, gelang, baju, tas, sepatu, dan lain-lain) dapat ditemukan dengan harga yang bermacam-macam, namun tetap relatif murah dibanding pasar modern.

            Meki harga yang dijual-belikan di Pasar Baru Karawang sudah relatif murah, tawar-menawar tetap dilakukan oleh pembeli untuk mendapat kebutuhan dengan harga rendah, Eliati Amir contohnya.

            “Kalau ke pasar enggak nawar mah sarua jeung (sama aja) bohong. Ngapain  ke pasar kalau enggak nawar, justru belanja ke pasar teh karena bisa nawar,” ujar Ibu 3 orang anak ini.

Dalam melakukan proses tawar-menawar, Elia, sapaan Eliati Amiri, akan langsung ke tawaran setegah harga, meski penjual tidak akan langsung setuju. Penjual ikut melakukan tawar-menwar terlebih dahulu, baru mendapat keputusan akhir yang  selalu dimenanginya.

            Elia mengaku apabila penjual tetap tidak mau dengan harga yang ia inginkan, hal yang selalu ia lakukan adalah pergi begitu saja. Uniknya, saat melakukan itu, penjual justru menyerah dan memanggil Elia untuk setuju dengan harga yang diminta. Kekuatan para ibu, katanya.  

            Bukan hanya ciri khas atau bahkan tradisi yang melekat pada pasar tradisional, tawar-menawar bisa dikatakan juga sebagai pembeda antara pasar tradisional dengan pasar modern. Di pasar modern atau supermarket tidak akan ada yang namanya tawar-menawar karena harga sudah tercantum di setiap kebutuhan. Hal itu juga yang menjadi alasan Elia lebih memilih berbelanja di pasar tradisional.

Walaupun kotor, panas, sumpek, bau, dan terbuka sehingga terik matahari tak bisa dihindari, ia selalu setia memilih pasar tradisional, tepatnya Pasar Baru Karawang, sebagai tempat membeli kebutuhan.           

Penulis :
Eronika Dwi Pinara
Politeknik Negeri Jakarta
Prodi. Penerbitan (Jurnalistik)

Dimuat di Bekasimedia.com 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Take On The World Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang

Blogger Templates